Artificial intelligence (AI) atau teknologi kecerdasan buatan terus mengalami perkembangan yang pesat. Setiap tahun tren AI menjadi lebih canggih.
Menurut Peiter Lydian, Country Director Meta Indonesia AI tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga akselerator yang memungkinan terkoneksinya manusia. Koneksi tersebut akan membuka peluang bisnis.
Ia juga menyampaikan prediksi tren AI 2026. Apa saja prediksi tren AI tersebut?
Empat Prediksi Tren AI dari Meta
Dua tahun ke depan tren AI menjadi salah satu faktor yang akan membentuk perilaku digital dari masyarakat. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga bertanya secara langsung. Bahkan menilai kualitas sampai mendapatkan rekomendasi secara instan.

Di Indonesia sendiri sudah ada sekitar 79 persen sektor UMKM yang memanfaatkan tren AI. Data tersebut berdasarkan Meta. Pemanfaatan tren AI itu umumnya digunakan untuk layanan pelanggan dan pemasaran.
Lalu, bagaimana dengan tren AI tahun 2026 nanti? Apa yang berubah?
1. Dari Generative AI ke Agnetic AI
Prediksi tren AI pertama berasal dari Generative AI. Jika Generative AI dapat bekerja ketika Anda memberikan perintah baik itu berupa teks maupun gambar, maka untuk Agnetic AI akan memungkinkan Anda untuk memberikannya tugas secara jangka panjang dan mandiri.
Contohnya adalah Anda dapat memerintahkan Agentic AI seperti “lakukan pemantauan pada berita dengan topik ABCD, apabila ada perkembangan kabari”. Jadi, Anda tidak perlu lagi melakukan instruksi dan panggilan terus menerus.
Adanya Agnetic AI ini akan mengotomatisasi proses tanpa perlu interaksi secara manual berulang kali.
2. AI menjadi Customer Service
Aplikasi Instagram DM, Whatsapp, dan Messenger kini memungkinkan pelanggan tidak hanya bertanya, tetapi juga langsung membeli melalui chat.
Agen AI memungkinkan untuk menjawab pertanyaan basic dari konsumen secara otomatis.
Meta mengungkapkan bahwa OJK Indonesia telah menerapkan chatbot Whatsapp dan dengan penggunaan tren AI tersebut, produktivitas meningkat hingga empat kali lipat. Bahkan menyelesaikan sekitar 80 persen pertanyaan.
Layanan 24/7 bukan lagi menjadi fitur pilihan atau tambahan tetapi sudah menjadi suatu kebutuhan.
3. Kolaborasi Konten Kreator dan Teknologi AI
Kini kreator dapat menyematkan link produk langsung pada konten. Misalnya, kemitraan antara Facebook dan Shopee. Ini memungkinkan berubahnya cerita menjadi konversi secara real time.
Melalui fitur dubbing otomatis ke bahasa asing, kreator lokal dapat go international. Salah satu contohnya ada Kili Paul. Ia adalah kreator dari suku Maasai. Ia mencapai 10,8 juta pengikut dengan konten lipsync lagu Indianya.
Peiter mengatakan bahwa kreator juga bisa “diekspor”. Hal tersebut sejalan dengan adanya tren perdagangan lintas batas.
Tren ini akan membuka peluang yang lebar bagi ekonomi halal. Memungkinkan kosmetik halal asal Indonesia diekspor ke pasar global khusus muslim.
4. Generative AI untuk Materi Iklan
Video telah menjadi komunikasi pemasaran bagi konsumen dan brand. Menurut Meta, sudah ada hampir 2 juta pengiklan yang memakai Generative AI untuk membantu mereka membuatkan materi iklan untuk iklan video.
Hal tersebut memungkinkan iklan video Anda lebih relevan untuk audiens yang berbeda. Penggunaan fitur Advantage+ akan membantu Anda untuk melakukan targeting dan menyajikan variasi kreatif.
Penggunaan teknologi AI untuk periklanan mampu meningkatkan efisiensi. Peiter mengatakan bahwa tiap 1 dolar AS yang digunakan untuk belanja iklan basis AI, akan membuahkan return hingga sebesar 3,47 dolar.
Itulah beberapa prediksi tren AI 2026 menurut Meta. Apakah Anda sudah siap dengan tren AI tersebut dan menerapkannya dalam bisnis Anda?

